(Bahan Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:5-12)
Saudaraku
yang kekasih, janganlah meniru yang jahat,melainkan yang baik.
Barang siapa
berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat,
ia tidak pernah melihat Allah (ayat 11)
Banyak Ahli komunikasi menyatakan bahwa: “tujuan
utama berbicara dengan orang lain adalah untuk mengurangi Frustasi”. Membangun
komunikasi dengan orang lain; pada satu sisi bertujuan untuk menata kembali
keadaan hati yang sedang kacau atau yang sedang mengalami ketidakpastian,
sehingga gambaran yang positif untuk masa mendatang lebih terbuka, realistis
dan mudah diduga.
Pada
dasarnya setiap orang sudah seharusnya membangun hubungan baik dengan orang
lain, untuk memperoleh pandangan yang baik dan realistis mengenai situasi diri
mereka.
Yohanes
dalam bacaan kita, mengatakan tentang adanya pertentangan (ayat 9), yang menggambarkan
tentang Diotrefes yang ingin menjadi terkemuka, diantara hamba-hamba Tuhan,
bahkan tidak mau mengakui mereka yang telah melayani dengan jerih payah; bahkan kelanjutan pada
ayat 10, menggambarkan tentang perbuatan diotrefes yang melontarkan kata-kata
kasar kepada para hamba-hamba Tuhan, bahkan mencegah dan mengucilkan mereka
dari jemaat.
Cara hidup
yang merasa hebat, benar sendiri, ingin dinomorsatukan, adalah cara-cara hidup
yang perlu dihindari – dapat dikatakan bahwa: orang-orang yang sering berprilaku
seperti ini, perlu diragukan dalam persekutuan.
Kita perlu juga bersifat
realistis untuk memahami orang lain sebagai tempat dimana kita membangun
kehidupan yang saling mengasihi, menolong, menegur, membimbing dan menasihati.
Prinsipnya segala keperbedaan kita harus ditata dan dimanfaatkan untuk kepentingan
bersama.
Jelasnya
bahwa diseputar kebersamaa, sudah tentu pernah mengalami hal-hal yang bertolak
belakang, namun ini juga adalah tugas kita untuk melihat mengkritisi, meneliti
dengan cermat, memiliki ketenangan hati dan kedewasaan, tidak emosional,
mempunyai motivasi yang jelas, jujur, bahkan untuk menyadarkan orang lain tentang
hal-hal yang dianggap salah; kita juga perlu memiliki informasi yang tepat;
sebab jika tidak memiliki semua itu, kita akan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan persoalan yang dihadapi; Dan bisa saja suatu masalah bukannya
selesai, malah bertambah kacau.
Segala hal
yang sudah dan sedang dijalani hingga saat ini; Dalam keterbukaan orang percaya
perlu juga mengevaluasi diri untuk mendapatkan pandangan yang seimbang dan
menguntungkan dalam upaya “menggarami dan menyinari”. Orang Kristen yang baik,
adalah kita yang tidak hanya mencintai diri sendiri. Sampai disini; tanpa sebuah
kebersamaan, kita akan lemah, dan ketika kita lemah; Maka, keberadaan kita
sebagai laki-laki gereja yang tadi-tadinya kuat dan hebat - akan “kelihatan kusut” seperti baju yang
belum disetrika – atau mungkin perempuan-perempuan gereja yang tadi-tadinya
segar dengan warna-warninya yang indah –
berubah menjadi layu seperti rumput kering. Karena itu; bagi kita yang tidak
mau menjadi kusut dan layu; bersatulah, hargailah sesama dengan segala
perbedaan yang ada sebagai karunia Tuhan untuk saling menolong dan menguatkan.
Dalam
kehidupan berjemaat, banyak dari kita yang kelihatan seperti sangat beriman,
tapi kenyataannya banyak juga yang jadi penonton, tetapi setelah itu menunggu
waktu yang tepat untuk mencela, memojokan dan menyalahkan. Ada juga kan,
diotrefes-diotrefes kecil yang sering menggelisahkan persekutuan dan berupaya memecah-belah
persekutuan (keluarga, jemaat dan masyarakat): Mungkinkah mereka adalah isteri kita, suami
kita, anak-anak kita, saudara kita, orang tua kita, atau mungkin kita sendiri !
Memang
setiap tantanga punya resiko sendiri-sendiri; Tetapi bagi kita, hanya Tuhan
yang bisa memampukan kita untuk menghadapi segala tantangan.
Sudah Siapkah untuk menghadapi
tantangan selanjutnya ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar