Kamis, 03 Mei 2012

MENGHADAPI TANTANGAN


(Bahan  Bacaan Alkitab:  3 Yohanes 1:5-12)

Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat,melainkan yang baik.

 Barang siapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat,
 ia tidak pernah melihat Allah (ayat 11)
Banyak Ahli komunikasi menyatakan bahwa: “tujuan utama berbicara dengan orang lain adalah untuk mengurangi Frustasi”. Membangun komunikasi dengan orang lain; pada satu sisi bertujuan untuk menata kembali keadaan hati yang sedang kacau atau yang sedang mengalami ketidakpastian, sehingga gambaran yang positif untuk masa mendatang lebih terbuka, realistis dan mudah diduga.
Pada dasarnya setiap orang sudah seharusnya membangun hubungan baik dengan orang lain, untuk memperoleh pandangan yang baik dan realistis mengenai situasi diri mereka.
Yohanes dalam bacaan kita, mengatakan tentang adanya pertentangan (ayat 9), yang menggambarkan tentang Diotrefes yang ingin menjadi terkemuka, diantara hamba-hamba Tuhan, bahkan tidak mau mengakui mereka yang telah melayani  dengan jerih payah; bahkan kelanjutan pada ayat 10, menggambarkan tentang perbuatan diotrefes yang melontarkan kata-kata kasar kepada para hamba-hamba Tuhan, bahkan mencegah dan mengucilkan mereka dari jemaat.
Cara hidup yang merasa hebat, benar sendiri, ingin dinomorsatukan, adalah cara-cara hidup yang perlu dihindari – dapat dikatakan bahwa: orang-orang yang sering berprilaku seperti ini, perlu diragukan dalam persekutuan.
Kita perlu juga bersifat realistis untuk memahami orang lain sebagai tempat dimana kita membangun kehidupan yang saling mengasihi, menolong, menegur, membimbing dan menasihati. Prinsipnya segala keperbedaan kita harus ditata dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.
Jelasnya bahwa diseputar kebersamaa, sudah tentu pernah mengalami hal-hal yang bertolak belakang, namun ini juga adalah tugas kita untuk melihat mengkritisi, meneliti dengan cermat, memiliki ketenangan hati dan kedewasaan, tidak emosional, mempunyai motivasi yang jelas, jujur, bahkan untuk menyadarkan orang lain tentang hal-hal yang dianggap salah; kita juga perlu memiliki informasi yang tepat; sebab jika tidak memiliki semua itu, kita akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi; Dan bisa saja suatu masalah bukannya selesai, malah bertambah kacau.
Segala hal yang sudah dan sedang dijalani hingga saat ini; Dalam keterbukaan orang percaya perlu juga mengevaluasi diri untuk mendapatkan pandangan yang seimbang dan menguntungkan dalam upaya “menggarami dan menyinari”. Orang Kristen yang baik, adalah kita yang tidak hanya mencintai diri sendiri. Sampai disini; tanpa sebuah kebersamaan, kita akan lemah, dan ketika kita lemah; Maka, keberadaan kita sebagai laki-laki gereja yang tadi-tadinya kuat dan hebat  - akan “kelihatan kusut” seperti baju yang belum disetrika – atau mungkin perempuan-perempuan gereja yang tadi-tadinya segar dengan warna-warninya yang indah  – berubah menjadi layu seperti rumput kering. Karena itu; bagi kita yang tidak mau menjadi kusut dan layu; bersatulah, hargailah sesama dengan segala perbedaan yang ada sebagai karunia Tuhan untuk saling menolong dan menguatkan.
Dalam kehidupan berjemaat, banyak dari kita yang kelihatan seperti sangat beriman, tapi kenyataannya banyak juga yang jadi penonton, tetapi setelah itu menunggu waktu yang tepat untuk mencela, memojokan dan menyalahkan. Ada juga kan, diotrefes-diotrefes kecil yang sering menggelisahkan  persekutuan dan berupaya memecah-belah persekutuan (keluarga, jemaat dan masyarakat):  Mungkinkah mereka adalah isteri kita, suami kita, anak-anak kita, saudara kita, orang tua kita, atau mungkin kita sendiri !
Memang setiap tantanga punya resiko sendiri-sendiri; Tetapi bagi kita, hanya Tuhan yang bisa memampukan kita untuk menghadapi segala tantangan.
Sudah Siapkah untuk menghadapi tantangan selanjutnya ? 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar