Siapa yang memelihara lidah,
memelihara diri dari kesukaran (Amsal 21:23)
Hal kecil dapat berubah menjadi besar.
“Berbohong, berdusta, memfitnah, mengutuk, memaki-maki”
Bisa menyulitkan diri kita dalam upaya membangun hidup bersama dengan orang lain; Seperti Lidah Api yang menghanguskan.
Siapa yang bisa bertahan ditengah-tengah amukan Si Jago Merah ?
Seperti Titik Api di musim kemarau, jika tidak segera dipadamkan, bisa berakibat buruk; Itulah LIDAH
LIDAH bisa baik, bisa juga membahayakan; tadi-tadinya titik api – segera menjadi Lautan Api yang sangat ganas, memanggang hidup-hidup siapapun yang berada di dekatnya.
Baik bisa jadi buruk, benar bisa disalahkan, yang salah juga bisa dibenarkan.
LIDAH Pembesar Negara, LIDAH Koruptor, LIDAH Hakim, LIDAH Rohaniawan, LIDAH Guru, LIDAH Ibu, LIDAH Bapak, LIDAH Anak-anak; Semua orang menggunakan LIDAH untuk berkata-kata.
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu berbohong
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu berdusta
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu menyalahkan
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu memfitnah
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu mengutuk
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu memaki-maki
Tanpa LIDAH, mulut tidak mampu mengucapkan Nama Tuhan dengan Sia-sia.
Berbohong, berdusta, menyalahkan, memfitnah, mengutuk, “bersumpah”: inilah titik apinya; Yang menjadikan titik api itu bertambah besar dan melebar menjadi Lautan Api yang berkobar-kobar dan sulit dipadamkan adalah dampak dari tindakan.
Berhati-hatilah sebab yang sangat berbahaya adalah dampaknya; mengakibatkan ada yang tidak dipercaya lagi, saling mendendam, saling merusak; Kalau sudah masuk wilayah Tuhan – Yang pasti berdosa.
Siapa yang mau dibohongi ?
Siapa yang mau di dustai ?
Siapa yang mau disalahkan jika tidak bersalah ?
Siapa yang mau difitnah ?
Siapa yang mau dikutuk orang lain ?
Siapa yang mau merelakan dirinya dimaki-maki depan umum?
Apakah Tuhan senang jika namaNya diucapkan sembarangan?
Hari-hari hidup kita akan terus dihiasi dengan seribu satu pembicaraan; Tetapi pembicaraan yang baik dan bermanfaat adalah yang tidak asal membuka lebar-lebar mulut kita, atau hanya mengandalkan otak yang jenius ! Tetapi hati juga harus digunakan; Dengan hati, kita akan mencoba memahami orang lain; dengan hati, kita disadarkan tentang kesalahan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, juga penyebab kesalahan yang orang lain lakukan.
Kalau kita sudah meminta Tuhan mengontrol bibir, otak dan hati kita:
Alangkah indahnya, jika LIDAH tetap berfungsi sebagai sarana yang tepat untuk memuliakan Tuhan (bc. Filipi 2:11) Amin !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar